Di saat banyak keluarga dapat berbuka puasa dengan tenang dan aman, keluarga Junaid di Jabalia, Gaza, justru menjalani momen tersebut di atas reruntuhan rumah mereka yang hancur akibat serangan. Di tengah puing bangunan dan keterbatasan yang ada, mereka tetap menggelar hidangan sederhana untuk berbuka, mempertahankan tradisi Ramadan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Potret ini menjadi gambaran nyata krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza. Keteguhan keluarga tersebut mencerminkan daya tahan dan harapan di tengah duka, sekaligus mengingatkan dunia bahwa warga sipil, terutama anak-anak, masih membutuhkan perhatian dan kepedulian internasional.
Suasana sahur perdana Ramadhan 2026 di Gaza terlihat hangat meski di tengah keterbatasan. Warga berkumpul dengan hidangan sederhana, ditemani cahaya lampu dan lentera. Momen ini jadi simbol kebersamaan, keteguhan, dan harapan di tengah situasi yang mereka hadapi.
Ramadhan ke-3 Sejak Genosida: Gaza di Antara Kehilangan, Runtuhnya Ekonomi, dan Daya Tahan untuk Bertahan
Untuk tahun ketiga sejak genosida, Gaza menyambut Ramadan dalam situasi darurat kemanusiaan dan kehancuran ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tradisi yang dulu identik dengan pasar ramai, lampu hias, dan persiapan pangan kini tergantikan oleh tenda pengungsian, pengangguran massal, dan meja makan yang serba terbatas.
Banyak pedagang kehilangan toko dan modal akibat pemboman. Sebagian mencoba bangkit dari balik tenda darurat dengan pasokan minim, harga tak stabil, listrik terputus, dan ancaman serangan yang belum reda. Di sisi lain, keluarga pengungsi bergantung pada dapur umum untuk berbuka. Kenaikan harga bahan pokok dan kelangkaan gas membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sahur dan iftar.
Di tengah krisis ekonomi yang ditandai lonjakan pengangguran hingga sekitar 80 persen dan kenaikan harga barang yang disebut mencapai lebih dari 300 persen dibanding sebelum perang, daya beli warga nyaris lumpuh. Ramadan yang biasanya menjadi penggerak konsumsi justru berubah menjadi beban tambahan.
Lebih dari sekadar krisis ekonomi, bulan suci ini juga menjadi musim kehilangan. Banyak keluarga menjalani Ramadan tanpa anggota keluarga yang gugur dalam serangan. Suasana ibadah dan kebersamaan dibayangi duka mendalam.
Namun di tengah kehancuran, sebagian warga tetap berupaya bertahan, mencari nafkah seadanya, berbagi makanan, dan menjaga tradisi sebisanya. Ramadan di Gaza kini bukan lagi soal perayaan, melainkan tentang bertahan hidup di tengah reruntuhan.
Tenda, Puing, dan Lentera: Cara Gaza Merawat Hidup di Bulan Suci Ramadhan
Lebih dari dua tahun setelah perang dan serangan brutal Israel meluluhlantakkan Jalur Gaza, denyut Ramadan kembali terasa. Di tengah blokade dan luka panjang, warga tetap menyambut bulan suci, bukan sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai pernyataan bertahan hidup.
Di kamp-kamp pengungsian, hiasan Ramadan terpasang di antara tenda-tenda darurat. Lukisan Kubah Shakhrah dan lentera warna-warni menghiasi dinding bangunan yang tinggal puing. Anak-anak menggantung ornamen dengan tangan mereka sendiri. Para pemuda memasang lampu di tiang-tiang yang nyaris roboh. Para ibu merangkai suasana seadanya, memanfaatkan apa pun yang tersisa.
Keterbatasan bahan pangan, listrik yang tak menentu, serta infrastruktur yang porak-poranda tak menghentikan warga merawat tradisi. Mereka sadar, perang berupaya menghapus bukan hanya bangunan, tetapi juga ritus kolektif yang mengikat komunitas. Karena itu, mempertahankan suasana Ramadan menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap upaya pemusnahan ruang sosial.
Badai pasir dan debu menerjang Jalur Gaza memperburuk kondisi ratusan ribu warga Palestina yang tinggal di tenda-tenda darurat pascaperang. Angin kencang membawa partikel debu yang menembus tenda rapuh, memicu kekhawatiran gangguan kesehatan, terutama bagi pengungsi dengan penyakit pernapasan kronis.
Otoritas cuaca Palestina memperingatkan hembusan angin kuat dan gelombang laut tinggi. Pengamat cuaca menyebut badai ini bergerak dari Afrika Utara menuju wilayah Palestina. Di lapangan, koresponden Anadolu Agency melaporkan sejumlah tenda berguncang hebat, sementara debu memenuhi area pengungsian.
Sejak Desember lalu, cuaca ekstrem berulang kali merusak puluhan ribu tenda dan bangunan yang sudah rapuh akibat pemb*man sebelumnya. Situasi ini terjadi meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan. Krisis kemanusiaan di Gaza belum menunjukkan perbaikan signifikan, dengan kebutuhan hunian layak dan pemulihan infrastruktur masih jauh dari terpenuhi.
Di Gaza, Ibu Hamil Bertaruh Nyawa di Tengah Blokade dan Kelaparan
Di sebuah tenda lusuh di Kota Gaza, Um Diab menjalani bulan kelima kehamilan dalam kondisi kekurangan gizi. Sejak dipaksa mengungsi dari utara Jalur Gaza, ia hidup tanpa kepastian akses pangan dan layanan kesehatan. Anak balitanya mengalami gizi buruk, sementara ia sendiri kerap pulang dengan tangan kosong setelah berjam-jam mengantre suplemen di Rumah Sakit Internasional Al-Hilu. Kehamilannya berisiko tinggi, namun kontrol rutin nyaris mustahil karena keterbatasan biaya dan pasokan medis.
Kisah serupa dialami Israa Qasim di kawasan Al-Zeitoun, Gaza timur. Hamil tujuh bulan, ia tinggal di rumah rusak tanpa listrik dan air memadai. Ia didiagnosis kekurangan zat besi dan vitamin akut setelah beberapa kali pingsan. Suplemen datang tak menentu, makanan sekadar meredam lapar. Ia khawatir melahirkan prematur atau bayi dengan berat badan rendah, situasi yang kian sering terjadi.
Gelombang kelaparan yang menghantam Gaza pada pertengahan 2025 meninggalkan dampak panjang bagi ribuan perempuan hamil. Blokade Israel, runtuhnya sistem kesehatan, serta kelangkaan obat dan nutrisi memperburuk kondisi. Meski gencatan senjata berlaku sejak 11 Oktober lalu, akses terhadap pangan bergizi belum pulih.
Dokter kandungan di Gaza mencatat peningkatan keguguran, gangguan perkembangan organ janin, serta lonjakan kelahiran prematur. Kekurangan asam folat, zat besi, dan protein (ditambah stres berat) disebut sebagai faktor utama. Berat rata-rata bayi baru lahir turun dari sekitar 3,5 kilogram menjadi 2,5 kilogram, indikator nyata krisis gizi yang belum teratasi.
Tenaga medis juga mengkhawatirkan dampak paparan lingkungan akibat penggunaan senjata berdaya ledak tinggi, meski keterbatasan fasilitas membuat pembuktian ilmiah sulit dilakukan. Rumah sakit kini dipenuhi bayi prematur dengan berat sangat rendah yang memerlukan perawatan intensif di tengah minimnya sarana.
Setelah sempat terhenti selama dua tahun akibat situasi yang belum stabil, kompetisi sepak bola di Gaza akhirnya kembali digelar. Turnamen yang diinisiasi Asosiasi Sepak Bola Palestina ini dimulai pada awal Februari 2026 sebagai upaya membangkitkan kembali semangat olahraga sekaligus memberi ruang hiburan bagi warga di tengah krisis berkepanjangan.
Salah satu pertandingan berlangsung dengan format 5 lawan 5 di Palestine Stadium, mempertemukan Gaza Sports Club dan Beit Hanoun Sports Club pada 8 Februari 2026. Meski fasilitas sangat terbatas, laga tetap berjalan dan menjadi penanda hidupnya kembali kompetisi lokal. Lapangan bahkan dibersihkan secara gotong royong oleh federasi dan masyarakat sekitar.
Di sekitar arena masih terlihat puing bangunan rusak, sementara penonton menyaksikan pertandingan dari balik pagar hingga reruntuhan yang tersisa. Walau jauh dari kondisi ideal, antusiasme warga tetap tinggi, menjadikan sepak bola sebagai pelarian sejenak dari realitas yang masih sulit.
UNRWA: 90 Persen Sekolah di Gaza Hancur atau Rusak Akibat Serang*n Isra*l
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, menyatakan sekitar 90 persen sekolah di Jalur Gaza rusak atau hancur akibat serang*n milit*r Isra*l selama perang terakhir.
Dalam pernyataan di platform X, Kamis, UNRWA menyebut sekolah-sekolah yang masih berdiri kini berfungsi sebagai pusat penampungan pengungsi. Aktivitas belajar formal praktis lumpuh. Anak-anak menerima pelajaran melalui ruang belajar darurat yang dikelola tim UNRWA atau lewat pembelajaran digital dengan fasilitas terbatas.
UNRWA juga melaporkan satu sekolah miliknya di Jabalia dihancurkan menggunakan bahan peledak. Bangunan itu merupakan gedung terakhir yang tersisa dari kompleks yang sebelumnya terdiri atas enam sekolah. Sejak Januari, sedikitnya delapan sekolah UNRWA dilaporkan diratakan.
Di tengah situasi itu, UNRWA menyatakan telah membuka kembali Pusat Kesehatan Al-Bureij pada 7 Februari untuk melanjutkan layanan kesehatan dasar di wilayah timur Gaza tengah, sebuah langkah darurat di tengah keruntuhan infrastruktur sipil.
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Di saat banyak keluarga dapat berbuka puasa dengan tenang dan aman, keluarga Junaid di Jabalia, Gaza, justru menjalani momen tersebut di atas reruntuhan rumah mereka yang hancur akibat serangan. Di tengah puing bangunan dan keterbatasan yang ada, mereka tetap menggelar hidangan sederhana untuk berbuka, mempertahankan tradisi Ramadan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Potret ini menjadi gambaran nyata krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza. Keteguhan keluarga tersebut mencerminkan daya tahan dan harapan di tengah duka, sekaligus mengingatkan dunia bahwa warga sipil, terutama anak-anak, masih membutuhkan perhatian dan kepedulian internasional.
1 day ago (edited) | [YT] | 4,975
View 125 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Suasana sahur perdana Ramadhan 2026 di Gaza terlihat hangat meski di tengah keterbatasan. Warga berkumpul dengan hidangan sederhana, ditemani cahaya lampu dan lentera. Momen ini jadi simbol kebersamaan, keteguhan, dan harapan di tengah situasi yang mereka hadapi.
3 days ago | [YT] | 8,911
View 177 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Ramadhan ke-3 Sejak Genosida: Gaza di Antara Kehilangan, Runtuhnya Ekonomi, dan Daya Tahan untuk Bertahan
Untuk tahun ketiga sejak genosida, Gaza menyambut Ramadan dalam situasi darurat kemanusiaan dan kehancuran ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tradisi yang dulu identik dengan pasar ramai, lampu hias, dan persiapan pangan kini tergantikan oleh tenda pengungsian, pengangguran massal, dan meja makan yang serba terbatas.
Banyak pedagang kehilangan toko dan modal akibat pemboman. Sebagian mencoba bangkit dari balik tenda darurat dengan pasokan minim, harga tak stabil, listrik terputus, dan ancaman serangan yang belum reda. Di sisi lain, keluarga pengungsi bergantung pada dapur umum untuk berbuka. Kenaikan harga bahan pokok dan kelangkaan gas membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sahur dan iftar.
Di tengah krisis ekonomi yang ditandai lonjakan pengangguran hingga sekitar 80 persen dan kenaikan harga barang yang disebut mencapai lebih dari 300 persen dibanding sebelum perang, daya beli warga nyaris lumpuh. Ramadan yang biasanya menjadi penggerak konsumsi justru berubah menjadi beban tambahan.
Lebih dari sekadar krisis ekonomi, bulan suci ini juga menjadi musim kehilangan. Banyak keluarga menjalani Ramadan tanpa anggota keluarga yang gugur dalam serangan. Suasana ibadah dan kebersamaan dibayangi duka mendalam.
Namun di tengah kehancuran, sebagian warga tetap berupaya bertahan, mencari nafkah seadanya, berbagi makanan, dan menjaga tradisi sebisanya. Ramadan di Gaza kini bukan lagi soal perayaan, melainkan tentang bertahan hidup di tengah reruntuhan.
4 days ago | [YT] | 4,706
View 135 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Tenda, Puing, dan Lentera: Cara Gaza Merawat Hidup di Bulan Suci Ramadhan
Lebih dari dua tahun setelah perang dan serangan brutal Israel meluluhlantakkan Jalur Gaza, denyut Ramadan kembali terasa. Di tengah blokade dan luka panjang, warga tetap menyambut bulan suci, bukan sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai pernyataan bertahan hidup.
Di kamp-kamp pengungsian, hiasan Ramadan terpasang di antara tenda-tenda darurat. Lukisan Kubah Shakhrah dan lentera warna-warni menghiasi dinding bangunan yang tinggal puing. Anak-anak menggantung ornamen dengan tangan mereka sendiri. Para pemuda memasang lampu di tiang-tiang yang nyaris roboh. Para ibu merangkai suasana seadanya, memanfaatkan apa pun yang tersisa.
Keterbatasan bahan pangan, listrik yang tak menentu, serta infrastruktur yang porak-poranda tak menghentikan warga merawat tradisi. Mereka sadar, perang berupaya menghapus bukan hanya bangunan, tetapi juga ritus kolektif yang mengikat komunitas. Karena itu, mempertahankan suasana Ramadan menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap upaya pemusnahan ruang sosial.
5 days ago | [YT] | 4,436
View 109 replies
Gibran.Hijrah
5 days ago | [YT] | 4,238
View 212 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Perparah Krisis, Badai Pasir Guncang Tenda Pengungsi Gaza
Badai pasir dan debu menerjang Jalur Gaza memperburuk kondisi ratusan ribu warga Palestina yang tinggal di tenda-tenda darurat pascaperang. Angin kencang membawa partikel debu yang menembus tenda rapuh, memicu kekhawatiran gangguan kesehatan, terutama bagi pengungsi dengan penyakit pernapasan kronis.
Otoritas cuaca Palestina memperingatkan hembusan angin kuat dan gelombang laut tinggi. Pengamat cuaca menyebut badai ini bergerak dari Afrika Utara menuju wilayah Palestina. Di lapangan, koresponden Anadolu Agency melaporkan sejumlah tenda berguncang hebat, sementara debu memenuhi area pengungsian.
Sejak Desember lalu, cuaca ekstrem berulang kali merusak puluhan ribu tenda dan bangunan yang sudah rapuh akibat pemb*man sebelumnya. Situasi ini terjadi meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan. Krisis kemanusiaan di Gaza belum menunjukkan perbaikan signifikan, dengan kebutuhan hunian layak dan pemulihan infrastruktur masih jauh dari terpenuhi.
6 days ago (edited) | [YT] | 2,770
View 106 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Di Gaza, Ibu Hamil Bertaruh Nyawa di Tengah Blokade dan Kelaparan
Di sebuah tenda lusuh di Kota Gaza, Um Diab menjalani bulan kelima kehamilan dalam kondisi kekurangan gizi. Sejak dipaksa mengungsi dari utara Jalur Gaza, ia hidup tanpa kepastian akses pangan dan layanan kesehatan. Anak balitanya mengalami gizi buruk, sementara ia sendiri kerap pulang dengan tangan kosong setelah berjam-jam mengantre suplemen di Rumah Sakit Internasional Al-Hilu. Kehamilannya berisiko tinggi, namun kontrol rutin nyaris mustahil karena keterbatasan biaya dan pasokan medis.
Kisah serupa dialami Israa Qasim di kawasan Al-Zeitoun, Gaza timur. Hamil tujuh bulan, ia tinggal di rumah rusak tanpa listrik dan air memadai. Ia didiagnosis kekurangan zat besi dan vitamin akut setelah beberapa kali pingsan. Suplemen datang tak menentu, makanan sekadar meredam lapar. Ia khawatir melahirkan prematur atau bayi dengan berat badan rendah, situasi yang kian sering terjadi.
Gelombang kelaparan yang menghantam Gaza pada pertengahan 2025 meninggalkan dampak panjang bagi ribuan perempuan hamil. Blokade Israel, runtuhnya sistem kesehatan, serta kelangkaan obat dan nutrisi memperburuk kondisi. Meski gencatan senjata berlaku sejak 11 Oktober lalu, akses terhadap pangan bergizi belum pulih.
Dokter kandungan di Gaza mencatat peningkatan keguguran, gangguan perkembangan organ janin, serta lonjakan kelahiran prematur. Kekurangan asam folat, zat besi, dan protein (ditambah stres berat) disebut sebagai faktor utama. Berat rata-rata bayi baru lahir turun dari sekitar 3,5 kilogram menjadi 2,5 kilogram, indikator nyata krisis gizi yang belum teratasi.
Tenaga medis juga mengkhawatirkan dampak paparan lingkungan akibat penggunaan senjata berdaya ledak tinggi, meski keterbatasan fasilitas membuat pembuktian ilmiah sulit dilakukan. Rumah sakit kini dipenuhi bayi prematur dengan berat sangat rendah yang memerlukan perawatan intensif di tengah minimnya sarana.
1 week ago | [YT] | 4,502
View 137 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Setelah sempat terhenti selama dua tahun akibat situasi yang belum stabil, kompetisi sepak bola di Gaza akhirnya kembali digelar. Turnamen yang diinisiasi Asosiasi Sepak Bola Palestina ini dimulai pada awal Februari 2026 sebagai upaya membangkitkan kembali semangat olahraga sekaligus memberi ruang hiburan bagi warga di tengah krisis berkepanjangan.
Salah satu pertandingan berlangsung dengan format 5 lawan 5 di Palestine Stadium, mempertemukan Gaza Sports Club dan Beit Hanoun Sports Club pada 8 Februari 2026. Meski fasilitas sangat terbatas, laga tetap berjalan dan menjadi penanda hidupnya kembali kompetisi lokal. Lapangan bahkan dibersihkan secara gotong royong oleh federasi dan masyarakat sekitar.
Di sekitar arena masih terlihat puing bangunan rusak, sementara penonton menyaksikan pertandingan dari balik pagar hingga reruntuhan yang tersisa. Walau jauh dari kondisi ideal, antusiasme warga tetap tinggi, menjadikan sepak bola sebagai pelarian sejenak dari realitas yang masih sulit.
1 week ago | [YT] | 4,811
View 107 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
UNRWA: 90 Persen Sekolah di Gaza Hancur atau Rusak Akibat Serang*n Isra*l
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, menyatakan sekitar 90 persen sekolah di Jalur Gaza rusak atau hancur akibat serang*n milit*r Isra*l selama perang terakhir.
Dalam pernyataan di platform X, Kamis, UNRWA menyebut sekolah-sekolah yang masih berdiri kini berfungsi sebagai pusat penampungan pengungsi. Aktivitas belajar formal praktis lumpuh. Anak-anak menerima pelajaran melalui ruang belajar darurat yang dikelola tim UNRWA atau lewat pembelajaran digital dengan fasilitas terbatas.
UNRWA juga melaporkan satu sekolah miliknya di Jabalia dihancurkan menggunakan bahan peledak. Bangunan itu merupakan gedung terakhir yang tersisa dari kompleks yang sebelumnya terdiri atas enam sekolah. Sejak Januari, sedikitnya delapan sekolah UNRWA dilaporkan diratakan.
Di tengah situasi itu, UNRWA menyatakan telah membuka kembali Pusat Kesehatan Al-Bureij pada 7 Februari untuk melanjutkan layanan kesehatan dasar di wilayah timur Gaza tengah, sebuah langkah darurat di tengah keruntuhan infrastruktur sipil.
1 week ago (edited) | [YT] | 2,650
View 110 replies
Gibran.Hijrah
Ramadhan Hampir Tiba! Berikut ini Daftar beberapa merek kurma Yang di produksi dan terafiliasi isra*l
1 week ago (edited) | [YT] | 3,127
View 76 replies
Load more